Minggu, 06 Desember 2020

Inovasi dalam Pendidikan Agama Kristen bagi siswa/siswi SMP Negeri 3 Waikabubak BerdasarkanPembelajaran Perkembangan“Psikososial” – Erik Erikson

 

Inovasi dalam Pendidikan Agama Kristen bagi siswa/siswi SMP Negeri 3 Waikabubak BerdasarkanPembelajaran Perkembangan“Psikososial” – Erik Erikson

 

KARYA ILMIAH INOVASI

logo_tutwuri_handayani

 

 

 

 

                                                      

 

 

 

 

OLEH

MARYAWATI MANULANGGA, S. Th

 

 

PROGRAM PELATIHAN PROFESI GURU DALAM JABATAN

SMP NEGERI 3 WAIKABUBAK

SUMBA BARAT

2020

 

 


ABSTRAK

 

Perkembangan anak merupakan hal yang penting untuk kita pelajari dan kita pahami selaku calon pendidik. Banyak para pendidik yang belum memahami perkembangan - perkembangan anak. Sehingga masih ada pendidik yang menerapkan sistem pembelajaran tanpa melihat perkembangan anak didiknya. Hal ini akan berakibat adanya ketidakseimbangan antara sistem pembelajaran dengan perkembangan anak yang akan menyulitkan anak didik mengikuti sistem pembelajaran yang ada. Dengan mengetahui proses, faktor dan konsep perkembangan anak didik kita akan mudah mengetahui sistem pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan sesuai dengan perkembangan anak didik. Untuk mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi-generasi masa depan yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang perkembangan anak didik. Dengan demikian, sebagai pendidik kita diharuskan mengetahui dan memahami perkembangan peserta didik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji dan sembah kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan segala hikmatnya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik walaupun dalam penulisan ini masih begitu banyak kekurangan.


Penulis mengucapakan limpah terimakasih kepada setiap orang yang telah mendukung penulis baik melalui doa, melalui kesempatan yang diberikan kepada penulis dan juga melalui diskusi yang telah berlangsung. Terima kasih kepada kedua orang tua  yang selalu memberi semangat dalam menjalani masa pelatihan sehingga memberikan semangat motivasi dalam menyelesaikan setiap proses pembelajaran di P3G BPK Penabur Jakarta. Terima kasih buat setiap fasilitator yang memberikan banyak sekali pengetahuan yang membantu kami sebagai calon guru dalam menjalani setiap proses sebagai guru yang baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Debora selaku Direktur Pelaksana Program, yang juga menjadi orang tua bagi kami selama kami menjalani masa pelatihan ini. Terima kasih untuk setiap pengurus PLC termasuk bagi setiap orang yang terlibat dalam proses persiapannya.

Penulis sangat menyadari bahwa makalah inovasi  ini masih jauh sekali dari kesempurnaan, baik dari isi maupun penyajian. Untuk itu Penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk menuju kesempurnaan dalam penulisan makalah ini. Semoga hadirnya makalah yang sederhana ini memberi manfaat untuk pembaca dan terutama untuk penulis.

Tuhan Memberkati!

 

Jakarta, Juni 2014

 

 

                                                                                                Penulis

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Mengejar nilai yang baik seringkali menjadi prioritas baik bagi para murid maupun bagi setiap guru. Sebab dengan nilai yang baik, seluruh tujuan pembelajaran dinilai tercapai. Namun, pada kenyataannya saat ini banyak siswa yang mengeluh dan bosan dengan metode pembelajaran yang dipakai dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pembelajaran dirasakan monoton dan hal ini berlangsung dalam waktu yang lama. Terutama dalam kelas Pendidikan Agama Kristen. Ada pun di antara peserta didik, kita menemukan anak didik yang ‘tertinggal’ dari teman-temannya.

Pembelajaran bersifat kompleks artinya tidak hanya guru yang terlibat aktif dalam pembelajaran melainkan siswa dan guru. Guru dituntut untuk mengembangkan keahlian yang dimiliki dan menyalurkannya kepada siswa. Untuk itu guru perlu mengadakan inovasi pembelajaran guna mengoptimalkan kemampuan siswa dan supaya tidak bosan. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, banyak pertanyaan yang muncul yang berhubungan dengan inovasi pembelajaran. Bagaimana implementasi pembelajaran berbasis kognitif dan sosio-emosional dalam inovasi pembelajaran dan apa maksud dari individu sebagai pribadi yang unik? Bagaimana konsep belajar dan pembelajaran? Bagaimana agar inovasi yang dimaksudkan sesuai dengan perkembangan anak secara psikososial (menurut Eric Erikson).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Rumusan Masalah

Perkembangan anak merupakan hal yang penting untuk kita pelajari dan kita pahami selaku calon pendidik. Banyak para pendidik yang belum memahami perkembangan - perkembangan anak. Sehingga masih ada pendidik yang menerapkan sistem pembelajaran tanpa melihat perkembangan anak didiknya. Hal ini akan berakibat adanya ketidakseimbangan antara sistem pembelajaran dengan perkembangan anak yang akan menyulitkan anak didik mengikuti sistem pembelajaran yang ada. Dengan mengetahui proses, faktor dan konsep perkembangan anak didik kita akan mudah mengetahui sistem pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan sesuai dengan perkembangan anak didik. Untuk mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi-generasi masa depan yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang perkembangan anak didik. Dengan demikian, sebagai pendidik kita diharuskan mengetahui dan memahami perkembangan peserta didik.

Pendidikan pada hakekatnya adalah upaya yang dilakukan oleh seorang pendidik untuk membantu perkembangan peserta didik dan membantu membentuk serta mengembangkan nilai-nilai, sikap, moral, pengetahuan dan keterampilan tertentu dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya.[1] Oleh karena itu pendidikan perlu disesuaikan dengan proses dan tahapan perkembangan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.       Implementasi teori otak dalam pembelajaran

Otak merupakan pusat syaraf tubuh manusia, segala kegiatan dijalankan oleh otak. Banyak pertanyaan yang muncul dengan adanya inovasi pembelajaran berbasis kemampuan otak. Para ahli membagi otak dalam dua kategori yaitu otak kanan dan otak kiri. Kapasitas otak terletak pada masalah waktu dan motivasi yang diberikan oleh orang lain daripada design otak itu sendiri.

Pada otak belahan kanan berfungsi untuk proses holistik dan belahan kiri untuk proses analitik. Eric Jensen dalam bukunya Brain-Based Learning(2008) mengatakan bahwa “Otak memang tidak dirancang dengan baik untuk mengikuti instruksi formal.[2] Dalam kenyataannya, otak sama sekali tidak didesain untuk efisiensi atau ketertataan. Justru otak berkembang paling baik melalui seleksi dan kemampuan bertahan hidup”. Stimulasi yang diberikan akan mempengaruhi perkembangan otak.

Otak mengatur segala gerak dan tingkah laku individu. Untuk menstimulasi otak siswa agar berkembang optimal perlu dilakukan inovasi dalam pembelajaran. Terkait dengan perkembangan pembelajaran yang berhubungan dengan cara kerja otak dan mengembangkan kedua belahan otak tersebut, maka guru perlu menggunakan strategi pembelajaran yang terkait dengan emosional, sosial, kognitif, fisik, dan reflektif.

Perkembangan otak juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar. Sistem pembelajaran berbasis otak mensyaratkan proses belajar didukung oleh iklim kelas yang kondusif bagi keamanan emosional. Sebagian besar pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada aspek kognitif atau intelektualnya saja dan yang berkembang hanya otak belahan kiri. Untuk itu guru perlu berperan sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan keinginan belajar, dan mendukung siswa mencapai apa yang mereka inginkan. Hal ini dilakukan agar otak belahan kanan dan belahan kiri berkembang dengan seimbang.

Setiap individu (dalam hal ini siswa/I SMP) mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda tergantung dengan otak dan lingkungannya. Lingkungan yang diperkaya baik mental maupun fisik memang penting, tetapi ada hal lain yang sama pentingnya. Yakni adanya umpan balik antara kemampuan kognitif yang baik dengan lingkungan yang kondusif. Itulah sebabnya, individu yang berkembang dalam keadaan lingkungan yang kurang atau bahkan tidak kondusif, menimbulkan efek yang tidak seimbang. Nilai baik, tetapi kelakuan kurang baik.

1.1 Individu sebagai pribadi unik

Perkembangan itu sendiri merupakan proses perubahan yang kompleks, melibatkan berbagai unsur-unsur yang berpengaruh. Individu berkembang dalam aspek biologis, kognitif dan psikososial. Dalam aspek biologis beberapa perkembangannya dapat dilihat seperti bertambahnya tinggi badan, dan bertambahnya berat badan. Otak, kalenjar, dan sistem syaraf juga mengalami perkembangan. Pada aspek kognitif individu mengalami perkembangan pada kemampuan berpikir, kemahiran berbahasa dan kemampuan memperoleh ilmu pengetahuan yang melibatkan aspek perasaan, emosi, dan kepribadian. Selain pada dua aspek tersebut, aspek psikososial individu mempunyai keberanian, rasa percaya diri dan ingi menolong di lingkungannya.

Sesuai dengan kosep anak sebagai individu, perkembangan juga merupakan suatu proses yang menyeluruh. Oleh sebab itu, individu sebagai pribadi yang unik karena dalam perkembangannya secara menyeluruh dan menjadi pribadi yang utuh.

 

2.        Perkembangan Sosio-Emosional

Salah satu perkembangan yang dialami individu adalah perkembangan sosio-emosi. Hal tersebut muncul seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh individu. Dalam perkembangan sosio-emosi, khususnya pada masa bayi, memiliki hubungan dengan perihal keterikatan (attachment), peran ayah sebagai pengasuh anak, tempat pengasuhan anak (day care), dan emosi.

Teori yang cukup komprehensif membahas konteks sosial dimana anak berkembang dan perubahan utama dalam perkembangan sosioemosional merupakan dua teori kontemprorer yang akan dibahas berikut ini.

2.1. Teori Ekologi Bronfenbrenner

Teori ini dikembangkan Bronfenbrenner (1917-2000) yang mengemukakan lima sistem lingkungan yang merentang interaksi interpersonal sampai kepada kultur yang lebih luas. Sistem tersebut adalah:

-          Mikrosistem adalah dimana individu menghabiskan waktu paling banyak seperti keluarga, tetangga, guru, teman sebaya dan orang lain.

Mesosistem adalah kaitan antar sistem. Contohnya adalah hubungan antara pengalaman di rumah dengan pengalaman di sekolah.

-          Ekosistem adalah sistem yang terjadi ketika pengalaman di setting lain (murid tidak aktif) mempengaruhi pengalaman siswa dan guru dalam konteks mereka sendiri.

-          Makrosistem adalah kultur yang lebih luas, mencakup etnis, adat istiadat, faktor sosioekonomi dalam perkembangan anak.

-          Kronosistem adalah kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak. Sekarang ini merupakan generasi pertama yang tumbuh dalam lingkungan elektronik yang dipenuhi dengan computer dan di dalam kota yang semrawut yang tidak kenal batas desa dan kota.

 

Oleh karena itu dalam mendidik anak perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pandanglah anak sebagai sosok yang terlibat dalam berbagai sistem lingkungan dan dipengaruhi oleh sistem itu.

Jalin hubungan sekolah dengan masyarakat baik melalui saluran formal dan informal.

Sadari arti penting komunitas, status sosioekonomi dan kultur dalam perkembangan anak karena konteks yang sangat luas ini mempengaruhi perkembangan anak.

 

2.2   Teori Perkembangan Rentang Hidup Erikson.

Menurut Erikson delapan tahapan perkembangan yang harus dilalui seseorang dalam rentang hidupnya adalah sebagai berikut:[3]

Tahap psikososial yaitu kepercayaan versus ketidak percayaan (trust and mistrust) masa bayi usia 0-2 tahun. Erikson mengartikan masa itu anak semestinya dapat mengembangkan perasaan percaya atau perasaan aman bersama pengasuhnya. Yang penting adalah anak harus melalui tingkat berkembangnya lebih lancar.

 

Tahap autonomy and shame (kemandirian dan rasa malu) masa usia 2- 3 tahun. Pada usia ini anak mencoba untuk mandiri secara fisik yang memungkinkan kemampuan mereka untuk berjalan, lari tanpa dibantu orang lain lagi. Pada periode inilah kemampuan anak untuk percaya diri dikembangkan, ada rasa malu karena mereka merasa tidak mampu. Dalam hal ini orang tua perlu terus menggugah rasa percaya diri anak bahwa mereka dapat dan boleh menentukan hidup mereka sendiri tanpa tekanan.

Tahap inisiatif and guilt (rasa bersalah) masa usia 3- 6 tahun. Pada masa ini anak belajar berekspresi, belajar menertawakan diri, mulai memahami bahwa ada pribadi lain selain dirinya. Pada masa ini terletak dasar dalam diri anak untuk menjadi kreatif yang akan menjadi sangat penting pada masa berikutnya. Pada fase ini yang harus diciptakan yaitu identitas diri terutama berhubungan dengan jenis kelamin mereka karena pengaruh kelamin mulai dirasakan secara psikologis. A sense of purpose menurut Erikson anak menjadi tidak terganggu dengan perasaan bersalah. Anak dapat menentukan apakah mereka akan menjadi seperti ayah atau ibu tanpa perasaan bersalah dan anak tidak akan mengalami banyak kegelisahan karena merasa tidak dimengerti.

 
Tahap mastery and inferiority (penguasaan dan rendah diri) masa usia 6- 12 tahun. Pada masa inilah mereka baru mulai mampu berkomunikasi dengan anak lain sehingga mereka mulai dapat membentuk kelompok. Pada usia ini anak-anak sangat tertarik untuk belajar dan sangat sulit untuk berdiam diri. Anak yang melalui masa perkembangan ini dengan baik akhirnya anak akan memperoleh pelajaran dengan mendapatkan sense of mastery, suatu keyakinan bahwa mereka mampu menguasai masalah yang mereka hadapi. Anak-anak yang kehilangan kesempatan mengembangkan kompetensi mereka maka sense of mastery diganti oleh rasa rendah diri yang berdampak pda masa yang akan datang. Anak yang penuh rendah diri lebih sulit merasakan adanya kemampuan untuk mengembangkan kompetensi dalam bidang yang penting.


Tahap ego- identity vs role confussion (identitas diri vs kekacauan peran) masa remaja 12- 18/20 tahun. Masa ini adalah sumber utama untuk mengembangkan teori perkembangan psikososialnya. Pada masa ini yang terpenting adalah puncak dari semua yang selama ini dilalui dan akan digunakan untuk mengarungi hidup yaitu menciptakan identitas diri yang benar adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang dikumpulkan sampai saat ini dan menggabungkan semuanya menjadi suatu citra diri yang berguna bagi masyarakat. Salah satu faktor penting yang akan menentukan identitas diri adalah hadirnya Role Model yaitu seseorang yang bisa dijadikan contoh. Faktor penting lainnya adanya kejelasan bagaimana melangkah meninggalkan masa kanak-kanak menuju kedewasaan.

 

Tahap intimacy and isolation (keintiman dan pengasingan) antara masa usia 20- 30 tahun. Pada masa ini sudah dianggap dewasa dan bertanggung jawab penuh atas segala keberhasilan dan kegagalan. Pada masa ini mengenal dan mengizinkan untuk mengenal orang lain secara sangat dekat, atau masuk ke hubungan intim sedangkan kegagalan akan membuat terisolasi atau mengisolasi diri dari sekeliling. Keintiman dapat terjadi karena telah mengenal diri dan merasa cukup aman dengan identitas diri yang dimiliki. Jadi, pokoknya Intimacy adalah hubungan dua orang yang sudah matang dan mengenal diri masing-masing dan menciptakan suatu kesatuan yang menghasilkan karya-karya yang lebih besar.[4]

 

2.3  Implementasi terhadap Proses Belajar Mengajar

Menempatkan anak didik yang fisiknya kecil di bangku paling depan. Menempatkan anak didik yang pendengarannya kurang di bangku paling depan. Menempatkan anak didik yang penglihatannya kurang di bangku paling depan. Memberikan pertanyaan mendadak kepada siswa yang mengantuk. Memberi perlakuan yang sama kepada semua anak didik, tidak terkecuali anak didik yang fisiknya kurang. Memberi informasi kepada anak didik tentang gangguan fisik yang sering terjadi pada masa usia pubertas mereka sehingga mereka dapat memahaminya secara benar dan siap secara mental menghadapinya.

2.4  Kelebihan dan Kekurangan Teori Erikson

Shaffer (2005) mengatakan banyak orang lebih memilih teori Erikson daripada Freud karena mereka hanya menolak untuk percaya bahwa manusia didominasi oleh naluri seksual mereka. Erikson menekankan banyak konflik sosial dan dilema pribadi yang dialami seseorang atau orang yang mereka kenal, sehingga mereka dapat dengan mudah mengantisipasinya. Erikson tampaknya telah menangkap banyak isu sentral dalam kehidupan yang dituangkannya dalam delapan tahapan perkembangan psikososialnya. Selain itu, rentang usia yang yang dinyatakan dalam teori Erikson ini mungkin merupakan waktu terbaik untuk menyelesaikan krisis yang dihadapi, tetapi itu bukanlah satu-satunya waktu yang mungkin untuk menyelesaikannya (Slavin, 2006).[5]

Selain memiliki kelebihan, teori Erikson juga memiliki beberapa kelemahan. Berikut beberapa kritikan terhadap teori Erikson:[6]

·         Tidak semua orang mengalami kasus yang sama pada fase dan waktu yang sama seperti yang dikemukakan Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya (Slavin, 2006). 

·         Teori ini benar-benar hanya pandangan deskriptif dari perkembangan sosial dan emosional seseorang yang tanpa menjelaskan bagaimana atau mengapa perkembangan ini bisa terjadi (Shaffer, 2005). 

·         Teori ini lebih sesuai untuk anak laki-laki daripada untuk anak perempuan dan perhatiannya lebih diberikan kepada masa bayi dan anak-anak daripada masa dewasa. (Cramer, Craig, Flynn, Bernadette. & LaFave, Ann, 1997).

Menurut Gagne (1984) belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Hakikat belajar sesungguhnya adalah proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat tetap dan lama dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Belajar yang dilakukan oleh manusia merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja dan dimana saja. Sedangkan pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar, dan anak dengan pendidik. Jika pembelajaran dianggap suatu sistem, berarti pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, strategi, metode pembelajaran, evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran.

Konsep proses pembelajaran dimulai dari merencanakan program pengajaran,dan penyusunan persiapan mengajar. Persiapan pembelajaran juga mencakup kegiatan guu untuk membaca buku-buku atau media pembelajaran lain yang berkaitan dengan materi belajar siswa dan mengecek keberfungsian alat peraga yang akan digunakan. Mengkonsep pembelajaran juga harus memahami prinsip-prinsip belajar antara lain, prinsip kesiapan, prinsip asosiasi, prinsip latihan, dan prinsip akibat.

 

3.      Implementasi dalam Pendidikan Agama Kristen

Menurut Judowibowo Poerwowidagdo, dalam artikelnya yang berjudul “Pendidikan Hak Asasi Manusia dalam pendidikan Kristen”, tujuan dari Pendidikan Agama Kristen (PAK) itu adalah untuk membantu peserta didik agar dapat mengembangkan iman dan pengetahuannya tentang Firman Tuhan Allah seperti yang termaktub dalam Alkitab, serta pengetahuan dan pengalamannya dalam kehidupan Gereja sebagai tubuh Kristus dan mengamalkannya dalam setiap aspek kehidupannya.[7] Dengan demikian, dalam PAK saling kait mengait antara satu aspek dengan aspek lainnya.

Namun, yang menjadi persoalan adalah sekalipun PAK ini sudah dipandang sebagai hal yang penting perannya bagi setiap peserta didik, akan tetapi selalu mendapat tantangan dan hambatan yang berhubungan dengan sumber daya manusia (guru dan murid), juga berhubungan dengan sarana dan prasarana. Adakalanya, guru menuntut dan membuat patokan bahwa semua peserta didik harus bisa memahami apa yang diajarkan dan kemudian akan terlihat melalui hasil pembelajaran yang baik. Sementara telah diketahui bersama bahwa masing-masing individu memilki dasar perkembangan yang berbeda-beda sehingga berpengaruh juga pada pola pikir peserta didik dan cara mereka menanggapi sesuatu.

Setelah melihat dan memahami teori perkembangan yang diuraikan di atas, kita dapat melihat bahwa berdasarkan tahapan perkembangan Erikson, ada kekuatan dan kelemahan karakter yang dominan saling mempengaruhi dari tahap satu kepada tahap berikutnya. Seseorang dapat menjadi dewasa melalui setiap proses perkembangan apabila berhasil mengembangkan sisi positif dari setiap konflik melalui kemampuannya untuk mengubah diri sendiri yang dipengaruhi oleh berbagai perubahan intern maupun peran orang-orang bermakna. Dikaitkan dengan peran pendidikan Kristen dalam keluarga, gereja, maupun sekolah, ada banyak manfaat yang dapat dikembangkan dari psikososial Erikson bagi pelayanan (khusus untuk anak usia dini sampai pra remaja).

1)      Bagi Anak Usia 0-3 Tahun

a. Orangtua khususnya ibu berperan penting dalam menumbuhkan harapan agar anak percaya kepada Allah, orang lain dan lingkungannya melalui:
- Kelekatan yang diupayakan dengan memotivasi para ibu untuk meluangkan
banyak waktu dan kasih sayang bersama anak.

- Orangtua dapat mengkondisikan anak mengenal Allah melalui saat teduh
pribadi, keluarga, atau dalam kebaktian di gereja. Menerapkan prinsip “shema” (Ul. 6:4-9) melalui cerita sebelum tidur.

b. Usaha membentuk “kehendak” dapat ditumbuhkan melalui motivasi agar
anak belajar melakukan kepentingannya sendiri atau diberi kebebasan
menanyakan dan memperoleh jawaban atas sesuatu yang ia tanyakan.

c. Anak rentan terhadap penyakit sehingga orangtua penting untuk menjaga kesehatan anak karena perkembangan fisik mempengaruhi kemandirian anak.

d. Filter terhadap Baby Sitter sebagai salah satu orang berpengaruh yang perlu diperlengkapi demi mendukung pertumbuhan anak.

2)      Bagi Anak Usia 3-5 tahun.

a.       Dalam rangka penguatan “inisiatif” orangtua sedapat mungkin menghindari kata “jangan begini/begitu..” melainkan memberi kesempatan agar anak menguji kemampuannya, misalnya mengambilkan minum untuk orangtua, dilibatkan untuk memimpin doa atau memuji Tuhan di rumah.

b.      Kepekaan orangtua melihat bakat dan minat anak dengan menyertakan anak mengikuti kursus tertentu atau penyediaan sarana bagi pengembangan bakat.

c.       Menciptakan Sekolah Minggu (SM) yang kreatif dengan melibatkan anak mengerjakan aktifitas, bermain atau menyanyi di depan dapat menumbuhkan inisiatif pada anak.

d.      Bagi sekolah, relasi sosial semakin luas karena anak mulai mengenal pendidikan formal baik di Play Group maupun Taman Kanak-kanak. Pengenalan lingkungan sekolah dengan guru, teman dan suasana baru dapat mendorong pengembangan inisiatif bila anak mendapat dukungan. Sebaliknya perasaan bersalah bisa mendominasi bila anak tidak diberi kesempatan untuk menguji kemampuannya.

3)      Bagi Anak Usia 6-12 Tahun

a.       Keaktifan anak untuk mencapai keberhasilan dalam bidang akademis dan berbagai keterampilan sosial diperoleh melalui proses peniruan dari perilaku orang dewasa. Dalam segala hal orangtua berperan sebagai model untuk memberi teladan (Ef. 6:4).

b.      Orangtua dapat mengikutsertakan anak dalam kursus tertentu berkaitan dengan bakat dan minat mereka sebagai usaha mengembangkan kompetensinya, tentu waktu relaksasi perlu diperhatikan.

c.       Pentingnya pendampingan orangtua pada saat anak melihat tayangan TV atau info berbagai media sehingga anak meneladani model yang benar.

d.      Pendidikan di sekolah, penyusunan kurikulum yang memotivasi anak untuk percaya dengan kemampuannya seperti penerapan metode Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang memacu kerja aktif anak serta menumbuhkan kompetisi sehat dalam kelompoknya. Peran guru bagi anak yang rendah diri ialah sebagai pendukung.

CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terprogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.[8]

 

CBSA akan lebih tampak dan menunjukkan kadar yang tinggi apabila pembelajaran lebih berorientasi kepada siswa, dan akan terjadi sebaliknya bila arah pembelajaran cenderung beroientasi kepada guru.

Ada 7 (tujuh) dimensi proses pembelajaran yang mengakibatkan terjadinya kadar ke-CBSA-an yang dikemukakan oleh Mc Keachie, yaitu: .[9]

1.      Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran.

2.      Tekanan pada aspek afektif dalam belajar.

3.      Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antarsiswa.

4.      Kekohesifan (kekompakkan) kelas sebagai kelompok.

5.      Kebebasan atau lebih tepat kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sekolah.

6.      Jumlah waktu yang digunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa, baik yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan dengan sekolah/pembelajaran.

 

Raka Joni (1992: 19-20) mengungkapkan bahwa sekolah yang ber-CBSA dengan baik mempunyai karakteristik berikut:

1.      Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa, sehingga siswa berperan lebih aktif dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri.

2.     Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar.

3.      Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar akademis, kegiatan ditekankan untuk mengembangkan kemampuan siswa secara utuh dan setimbang.

4.      Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa, dan memperhatikan kemajuan siswa untuk menguasai konsep-konsep dengan mantap.

5.      Penilaian, dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan dan kemajuan siswa, serta mengukur berbagai keterampilan yang dikembangkan.

 

Telah dipaparkan dan dipahami dalam psikologi perkembangan bahwa manusia berkembang sejak janin, kemudian kanak-kanak lalu dewasa hingga mencapai usia lanjut. Seringkali guru ataupun orang tua salah memahami masa kanak-kanak ini, yang memandang masa kanak-kanak itu sebagai orang dewasa mini, sehingga dalam usia kanak-kanak mereka sudah dipaksakan untuk memiliki pikiran dan perilaku selayaknya orang dewasa. Tentu saja masa kanak-kanak ini berbeda dari orang dewasa, baik itu kualitas cara berpikir, cara belajar dan sebagainya. Dengan memahami perkembangan psikologi pada pada anak (dalam hal ini psikososial), guru/orang tua akan lebih memahami anak sehingga dapat menentukan metode mengajar, materi, proses belajar-mengajar dan suasana yang dapat bermanfaat bagi anak.[10] Apalagi kalau kita lihat sekarang pertumbuhan pada masa kanak-kanak begitu cepat berubah. Dengan demikian kita tidak lagi menerapkan metode lama dalam proses pengajaran, melainkan selalu mengikuti perkembangan penelitian yang semakin maju.

 

 

BAB III

PENUTUP

1.                  Kesimpulan

Secara garis besar, proses perkembangan individu dapat dikelompokan ke dalam tiga domain; proses biologis, kognitif, dan psikososial dimana ketiga domain proses perkembangan tersebut merupakan satu kesatuan yang terpadu dan saling berpengaruh satu sama lain.

Kondisi panca indra, normalitas anggota tubuh, asupan gizi dan keadaan kesehatan secara menyeluruh mempengaruhi proses belajar. Masa pubertas berhubungan dengan perubahan hormon di dalam diri individu yang berakibat pada perubahan fungsi-fungsi fisiologis. Akibatnya para siswa di usia pubertas sering mengalami gangguan fisik dalam belajar. Perkembangan kognitif anak dan pengalaman belajar ini sangat erat kaitannya dan saling berpengaruh satu sama lain, yaitu perkembangan kognitif anak akan menfasilitasi atau membatasi kemampuan belajar anak, sebaliknya pengalaman belajar anak akan sangat memfasilitasi perkembangan kognitifnya.

Perkembangan ini berhubungan dengan perkembangan diri, penghargaan diri. Empat kunci untuk meningkatkan rasa harga diri yaitu: Mengidentifikasi penyebab rendah diri dan kompetensi penting bagi diri. Memberi dukungan emosional dan penerimaan sosial. Membantu anak mencapai tujuannya dan berprestasi. Mengembangkan keterampilan mengatasi masalah dengan pengabdian yang tulus dan kesadaran akan pentingnya pendidikan anak.

 

 

 

 

 

 

2.           Saran

Ada banyak penelitian yang dlakukan terhadap anak secara psikologis. Menurut hasil penelitian terbaru disarankan kemungkinan adanya dorongan-dorongan batin bagi perilaku moral yang dilakukan oleh anak didik. Para peneliti menemukan bahwa anak (peserta didik) yang merasa dirinya dikasihi, dan menerima keberadaannya, tidak merasa perlu mencontek, ataupun merasa dipuji karena ia tidak mencontek.[11]

Untuk mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi - generasi masa depan yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang perkembangan anak didik, psikologi anak, dan unsur-unsur kurikulum (bahan/materi, proses belajar-mengajar, metode dan alat bantu, serta evaluasi). Dengan demikian, sebagai pendidik kita diharuskan mengetahui dan memahami perkembangan zaman, baik yang berkenaan dengan teknik mengajar maupun tantangan iman yang dihadapi anak dari lingkungan di sekitarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Christiani, Tabita K. 2012. Pendidikan Anak – Ajarlah Mereka Melakukan. Jakarta: Gunung Mulia.

 

Cully. Iris V. 2012. Dinamika Pendidikan Kristen. Jakarta: Gunung Mulia.

 

Jensen, Eric, Brain-Based Learning. (2008). Yogyakarta: Pustaka Belajar

 

Hanurawan, Fattah. 2007. Karakteristik Psikologi Siswa dan Pengembagan Metode Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Nilai, 14 (2): 92-100.

 

Purwowidagdo, Judo. 2012. Pendidikan HAM dalam PAK – Ajarlah Mereka Melakukan. Jakarta: Gunung Mulia.

 

Erik Erikson. [Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Erik_Erikson] diakses pada tanggal 20 Mei 2014.

 

http://rimatrian.blogspot.com/2013/12/teori-perkembangan-psikososial-erick-h.html diakses pada tanggal 15 Mei 2014.

 

Kongkoh. 2010. Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson. [Online: http://kongkoh.blogspot.com/2010/01/teori-perkembangan-psikososial-erik.html] diakses pada tanggal 25 mei 2014.

 

http://ninyanggrainy.blogspot.com/2011/12/pendekatan-cara-belajar-siswa-aktif.html diakses pada tanggal 17 Juni 2014.

 

http://hiasrofi.wordpress.com/2013/04/23/makalah-cbsa-cara-belajar-siswa-aktif/ diakses pada tanggal 17 Juni 2014.



[2] Jensen, Eric, Brain-Based Learning. (2008). Yogyakarta: Pustaka Belajar

 

[3]  Erik Erikson. [Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Erik_Erikson] diakses pada tanggal 20 Mei 2014.

 

[5] Kongkoh. 2010. Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson. [Online: http://kongkoh.blogspot.com/2010/01/teori-perkembangan-psikososial-erik.html] diakses pada tanggal 25 mei 2014.

[6] op.cit., Kongkoh. 2010. Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson..

 

[7] Judo Purwowidagdo. 2012. Pendidikan HAM dalam PAK – Ajarlah Mereka Melakukan. Hlm.112.

[10] Tabita K. Christiani.2012.Pendidikan Anak -  Ajarlah Mereka Melakukan. Hlm. 129-130.

[11] Iris V. Cully.2012.Dinamika Pendidikan Kristen. Jakarta:Gunung Mulia. Hlm. 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inovasi dalam Pendidikan Agama Kristen bagi siswa/siswi SMP Negeri 3 Waikabubak BerdasarkanPembelajaran Perkembangan“Psikososial” – Erik Erikson

  Inovasi dalam Pendidikan Agama Kristen bagi siswa/siswi SMP Negeri 3 Waikabubak BerdasarkanPembelajaran Perkembangan“Psikososial” – Erik...